Press Release


Malacca Strait JAZZ – GREEN Festival
Cara Riau untuk Berdialog dengan Dunia ini, Berlanjut…

Inilah kali kedua pergelaran jazz dalam skala festival diadakan di kota Pekanbaru, Riau. Menurut Yusmar Yusuf, budayawan yang menjadi pengarah festival, ini sebuah langkah dalam membuka dialog antar peradaban dengan menggunakan bendera jazz untuk membawa musik Melayu menjawab tantangan global. Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara hendak diarahkan menjadi homebase-nya musik jazz di kawasan sebelah barat Indonesia, ucap bersemangat Yusmar Yusuf lagi. Tiada lain karena jazz dianggap bebas dan terbuka, yang mana dapat disandingkan dengan musik etnik Melayu saat ini. Jazz diyakininya sebagai Ratu musik dunia hari ini, maka tak pelak sebagai bendera tertinggi,kita ingin menggapai musik ini sebagai media untuk berdialog kepada dunia. “Suka tak suka, kita musti menyapa musik jazz. Pilihannya adalah menjadi dialog peradaban di kawasanSelat Malaka.”Terang Yusmar, tetap optimis. Dengan jazz, Riau ingin menyapa globalisme, ini menurut Gubernur Riau, HM Rusli Zainal. Musik jazz adalah salah satu pilihan dalam kerimbunan cara menyapa dunia, terang Gubernur yang tertulis dalam catalog festival ini di tahun silam.
Pada tahun 2007, Malacca Strait JAZZ mengambil tema Golden of Riau, untuk memeriahkan HUT emas Provinsi
Riau. Tahun ini, tema yang diambil adalah Green-Festival. Pemakaian tagline ‘Green Festival’ adalah sejalan dengan semangat untuk ‘menghijaukan’ kembali hati manusia Indonesia. Makna ‘green’, menurut Yusmar Yusuf, bisa berpembawaan alegoris dan metaforik. Di dalam kata ‘green’ tersemat keinginan merawat, memelihara, semangat feminin, menyejukkan, menghidang, menyediakan, kemayu, semangat bodhista, semangat sasmita, sebuah perenungan dan sekaligus gerakan peradaban yang hanif.

Jazz Festival yang mengusung isu ‘green’ ini, seakan hendak menyorak kepada dunia, bahwa keadilan ekologis
hendaklah menjadi tujuan bersama yang disemat dalam chip ingatan [memory] generasi bunga. Warisan besar
yang hendak diturunkan kepada dunia, adalah sebuah warisan yang menyejukkan, sebuah rumah bersama yang
berpelantar akal budi, sebuah zona aman dan selamat bagi susur-galur segenap makhluk hidup untuk menyelenggarakan kehidupan secara kompetitif dan berkeadilan. Bahwa segala makhluk adalah pemilik sah
dari ruang bernama bentangan bumi. Dia bukan dominasi makhluk manusia. Dalam prinsip kehidupan sekte Zen Budhism, diyakini bahwa ruang ekologis ini dihuni oleh bermilyar> ‘virus jahat’ dan ‘virus baik’. Ketika orang membuka lahan, membelah samudera, mencungkil bumi, secara tak sadar telah menghapus ‘rumah kehangatan’ virus jahat, maka ruang ekologis itu akan kehilangan keseimbangan.
Yang tinggal hanya virus baik. Alhasil, tiada keseimbangan lagi, virus baik yang tersisa itu, akan menjadi pemangsa dan penghancur ekologis secara memusnahkan. Artinya, dia berganti peran menjadi virus jahat pula.
Inilah prinsip hijau [green] yang ditawarkan dalam gerakan kebudayaan bernama ‘Malacca Strait Jazz’.
Sebuah gempita suara dan bunyi dari tanah besar Sumatera. Bahwa menjaga keseimbangan hati, keadilan
ekoligis, menjaga akal budi kebudayaan adalah kisah yang bersebati dengan semangat ‘merawat’ dan ‘menjaga’
keseimbangan hidup.

Jazz yang diyakini adalah mahkota musik dunia hari ini, melalui semangat ‘pembebasan’ yang tersemat di
dalamnya, adalah sebuah kisah menjanjikan bagi pengagungan kebudayaan dan peradaban Melayu. Di seberang yang lain, tema ‘hijau’ [green] telah menjadi jalan pedang yang berwibawa dalam gerakan politik dan kebudayaan di kontinental Eropa. Ihwal ini mewabah menjadi gerakan dunia, dengan mengusung isu penyelamatan planet bumi’. Bahwa bumi itu satu.
“Segala yang tersedia di permukaan bumi ini, ujar Gandhi, cukup untuk memenuhi keperluan setiap orang,
akan tetapi dia tidak akan bisa memenuhi keserakahan setiap orang’”.

Dan pada penerapannya secara langsung kelak, sebagai sebuah perhelatan yang menampilkan keberagaman jazz,
MSJ-GF ini bermaksud pula membuka pintu lebih lapang bagi pemunculan bintang-bintang belia. Merekapun
juga ‘hijau’, hijau yang sehat dan segar. Musisi muda-muda yang memiliki potensi dan mempunyai semangat untuk
tampil ke depan.
Dan catat saja, merekapun tak kalah dahsyat dengan musisi-musisi lebih senior, yang telah lebih dahulu dikenal publik!

Kemudian dalam menyuguhkan tema Green, ajang festival ini berkeinginan menyuguhkan wilayah artistic yang
lebih dalam, menyenggol nuansa-nuansa estetika panggung kesenian yang lebih luas. Tak melulu sajian hidup musik jazz, tapi muncul kejutan-kejutan penampilan yang berbeda dan mungkinlah “tak biasa”.
Bahkan hal kejutan ditampilkan oleh bintang-bintang yang sudah dikenal luas. Belum berhenti sampai di situ, pendalaman akan wilayah artistik, yang diyakini akan menambah pesona bagi festival ini adalah, sajian tata visual yang menjanjikan kenikmatan setara antara telinga dan mata.
Hingga menyelusup lancar dan menyegarkan hati setiap penontonnya kelak. Akan melibatkan peranserta rekan sineas kawakan, yang akan membentuk karya olahan sinematografi yang mempertajam unsur artistik pada panggung-panggung yang tersedia nanti. Siapa dia dan bagaimana nantinya, selengkapnya bentuk artistik yang
disajikan, silahkan untuk sabar menanti. Ada hasil bidikan lensa yang difokuskan menghasilkan “pertunjukkan-pertunjukkan” spontan kemolekan dan keindahan alam dan segala mahluk di dalamnya.

Sebagaimana halnya dengan kesempatan perdana di tahun silam, di tahun kedua ini Malacca Strait Jazz dengan tema Green-Festival ini juga ditujukan bagi segenap masyarakat penggemar musik di Pekanbaru dan s ekitarnya. Juga diniati agar kiranya, dapat mengundang para penggemar musik, khususnya jazz, dari mana-mana untuk memenuhi arena kompleks Bandarserai sebagai venue festival ini nantinya.

Dan di tahun ini sejumlah nama telah menyatakan kesediaannya untuk mendukung sepenuhnya MSJ-GF
seperti simakDialog, Dewa Budjana dan kawan-kawannya, Zarro, Donny Suhendra Trio, Canzo, Sherly’O, Andien, Hendri Lamiri, Rieka Roslan & Troubadors, pianis cilik asal Bandung, Zefanya H dengan kelompok the Uncles-nya.
Ada pula Koko Harsoe dan grupnya dari Bali, Djogdja Mood Jazz dari Jogja, Jon Gazali dari Padang dan lainnya.
Juga akan tampil, para musisi dari berbagai negara, yang mana kedatangannya didukung sepenuhnya oleh
Atase Kebudayaan ataupun Lembaga Kebudayaan pada Kedutaan Besar-nya masing-masing di Indonesia. Direncanakan pula, adanya penampilan istimewa dari Tommee, musisi kelahiran Indonesia yang sudah bermukim di Australia selama 24 tahun, dan telah kerapkali melakukan tur ke Eropa dan Asia, yang akan membawa grup musik “lintas negara”nya.

Demikianlah segala hal menyangkut festival jazz bernama Malacca Strait Jazz, dengan tema utamanya di tahun ini, Green Festival. Satu hal yang pasti, keberadaan festival di tanah Sumatera ini, akan ikut mendorong bagi kian bergairahnya perkembangan jazz di tanah air. Yayasan Riau Jazz Turbulence adalah pemrakarsa dan penyelenggara festival ini, dengan didukung penuh oleh Pemerintah Provinsi Riau.*****
dionmomongan untuk MSJ-GF 2008,-

 

 

Copyright 2007@Malacca Strait Jazz Festival