Jazz bisa berbunyi dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja…..

Artinya, JAZZ juga layak untuk mendapat tempat yang sesuai. Seperti juga bagaimana orang-orang menghargai jenis-jenis musik lainnya, yang acapkali disebutkan sebagai, musik komersil seperti contohnya pop, rock atawa dangdut. Jazz, pun saat ditengarai sebagai musik dengan pendengar yang “terbatas”, hanya untuk kalangan usia tertentu saja, tetap adalah sebuah bentuk musik yang sejatinya boleh disimak, dapat dimainkan kapanpun dan dimanapun. Juga oleh siapapun.
Bahkan sejarah telah mencatat, salah satu rekaman jazz pertama kali di tanah air dilahirkan di tanah Sumatera, sekitar akhir 1950-an jelang awal 1960-an. Maka kalau lantas jazz kembali “dibunyikan” di ranah Sumatera, tak sekadar mengungkit soal sejarah belaka, karena segala potensi memang sudah dimiliki. Potensi-potensi yang menanti-nantikan kesempatan untuk maju ke depan.
Pada pertengahan 2000-an, publik terutama penggemar jazz, tersentak ketika muncullah grup yang unik dan baru. Mereka bernama, yang tak kalah uniknya, GELIGA. Mereka memang unik, karena memainkan warna musik yang merupakan persandingan antara musik jazz yang barat dengan elemen-elemen musik Melayu nan timur.
Kalau sebelum ini, penggemar jazz tanah air hanyalah mengenal sebatas Krakatau, Wayan Balawan & Batuan Ethnic Fusion misalnya, dimana jazz dikawin-silangkan dengan unsur musik tradisi Sunda atau Bali. Geliga seolah menerbitkan secercah harapan baru. Jazz juga nikmat dan segar ketika dipertemukan dengan unsur musik tradisi kita yang lain, dalam hal ini adalah musik Melayu. Maka sekaligus juga menambah kesemarakan, kemeriahan pentas jazz tanah air.
Geliga makin menguatkan kepercayaan diri, bahwa musik-musik tradisi kita nan kaya sejatinya adalah harta warisan tiada terkira nilainya. Dan ketika harta warisan yang berserakan tersebut, diambil dan diolah kembali untuk memperoleh sentuhan-sentuhan modernisasi, maka percayalah, akan terjadi hasil perkawinan lintas budaya yang sangat menarik bagi siapapun untuk didengarkan dan disimak.
Adalah kami dari Yayasan Riau Jazz Turbulence, setelah melihat sekeliling kami, dari apa yang kami hadapi dan dengarkan saban hari. Kami merasakan, jazz memang telah hidup, detak-detak jantungnya makin terasa, di tanah kami. Geliga yang datang dari Pekanbaru adalah salah satu bukti konkritnya. Untuk itulah, sejak tahun silam, 2007, kami memberanikan diri untuk menggelar perhelatan jazz berupa sebuah festival. Dan sungguh berbesar hati, bahwa perhelatan tersebut mendapatkan respon positif dari banyak kalangan. Teristimewa oleh publik di Pekanbaru dan sekitarnya, yang mana sebagian besar diantaranya datang dari kaum muda.
Proses satu demi satu akan kami jalani dengan sukacita, bahwa itu adalah sebuah jalan yang harus kami tempuh, demi mencapai sebuah keberhasilan kelak. Dan festival ini memang untuk juga menyuarakan aspirasi kaum jazz di kota Pekanbaru, dan dapat sekaligus menjadi ajang persemaian bibit-bibit muda musisi dan penyanyi jazz berpotensi, tak hanya di Pekanbaru tapi juga di Indonesia.
Kalau di tahun silam kami mengambil tema Golden of Riau, lantaran menjadi salah satu perayaan HUT Emas Propinsi Riau, maka di tahun 2008 ini kami mengambil tema Green Festival. Festival Jazz yang peduli terhadap lingkungan hidup, lingkungan yang bersih dan sehat dan sesuai untuk menjadi bagian penting warisan bagi generasi mendatang.
Di tahun ini kami berkeinginan untuk dapat mengundang partisipasi sahabat-sahabat lain, musisi dan penyanyi terkemuka yang tertarik untuk mengolah dan memainkan jazz. Selain musisi dan penyanyi lain dari pelbagai daerah di Nusantara, yang membawa keeksotisan gaya permainannya masing-masing. Tak lupa juga rekan-rekan jazzer mancanegara, yang bahkan diharapkan berdatangan dari lima benua.
Kami memang berniat, untuk menambah lagi kemeriahan dan kesemarakan festival kami ini, festival yang menggunakan nama yang sangat kesohor di seluruh dunia, Selat Malaka. Sebagai sebuah jalur perhubungan yang menjadi “pertemuan” pelbagai Negara. Selat yang sangat ramai di “hadapan” kami, yang menjadi urat nadi perekonomian kawasan Asia sebelah Tenggara ini.
Malacca Strait Jazz Festival, diharapkan dapat menjadi sebuah perhelatan tahunan yang akan dapat mengundang atensi dan apresiasi penggemar jazz dari manapun, tak hanya sebatas publik Pekanbaru saja. Tegak berdiri, sebagai sebuah Jazz Festival artistik yang “terbesar” di luar kawasan Jawa-Bali, yang akan lebih menegaskan, bahwa jazz bisa berbunyi dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja….*****

 

 

 

Copyright 2007@Malacca Strait Jazz Festival