MaLacca Strait Jazz [GREEN FESTIVAL] Pekanbaru 2008


Malacca Strait Jazz, sebuah gempita jazz dari Sumatera. Di kawasan lalu lintas tersibuk di Asia ini, gemuruh even ini mengambil nama Selat Melaka sebagai imbang-dacing dengan geliat festival yang bertengger di tepian Selat Melaka seperti Penang Jazz Festival dan Singapore Jazz Festival. Malacca Stratit Jazz merupakan even tahunan dan telah menjadi “mata hati” dan “akal budi” musik Sumatera. Pekanbaru, dengan cerdas menangkap dan menjawab garis bujur yang disediakan oleh Penang di utara dan Singapore di garis selatan. Dan Pekanbaru menarik garis itu menjadi garis sebelah barat. Dengan demikian, terbuhul tiga episentrum jazz di kawasan Selat Melaka, sekaligus menjadi segitiga pertumbuh jazz di alam Melayu.
Malacca Strait Jazz, tahun lalu mengusung tagline “Golden Riau”. Ihwal ini merupakan pembuka lawang gemuruh ulang tahun emas Provinsi Riau yang dimulai sejak bulan Mei hingga Desember 2007. Festival Jazz tahun ini [2008], akan mengusung tagline ‘Green Festival’. Isu besar ini menjadi julang-julangan dalam festival tahun ini sejalan dengan semangat untuk ‘menghijaukan’ kembali hati manusia Indonesia. Makna ‘green’ [hijau] bisa berpembawaan alegoris dan metaforik. Di dalam kata ‘green’ tersemat keinginan merawat, memelihara, semangat feminin, menyejukkan, menghidang, menyediakan, kemayu, semangat bodhista, semangat sasmita, sebuah perenungan dan sekaligus gerakan peradaban yang hanif.
Secara topografis, selat Melaka [Malacca Strait] telah diinayahkan sebagai superhighway [lebuhraya] lalu-lintas peradaban dunia. Kebudayaan Melayu yang lembut, melankolik itu harus membuka diri dan senantiasa lentur [permiable] atas segala rempuhan dan terpaan peradaban dunia. Dalam ihwal rempuhan dan terpaan ini, kebudayaan Melayu harus menggeliatkan diri dalam gelegak yang ‘cerdas’. Tidak bisa bertindak ‘defensif’ semata, akan tetapi juga harus mampu menggulungkan segala terpaan dan rempuhan itu secara produktif, sehingga memberi sesuatu yang bermakna bagi tumbuh dan agungnya kebudayaan Melayu.
Jazz yang menjadi mahkota musik dunia hari ini, melalui semangat ‘pembebasan’ yang tersemat di dalamnya, adalah sebuah kisah menjanjikan bagi pengagungan kebudayaan dan peradaban Melayu. Di seberang yang lain, tema ‘hijau’ [green] telah menjadi jalan pedang yang berwibawa dalam gerakan politik dan kebudayaan di kontinental Eropa. Ihwal ini mewabah menjadi gerakan mondial, dengan mengusung isu ‘penyelamatan planet bumi’. Bahwa bumi itu satu. ‘Segala yang tersedia di permukaan bumi ini, ujar Ghandi, cukup untuk memenuhi keperluan setiap orang, akan tetapi dia tidak akan bisa memenuhi keserakahan setiap orang’.
Kita menyaksikan katastrofe alam yang silih berganti, kehancuran zona-zona rawan seperti kawasan gambut, kawasan paya, tebing pantai, penutupan anak sungai, penghapusan zona perairan umum seperti danau, situ dan perubahan ekologis garis pantai oleh kebijakan kapitalis-semu, seakan menghadirkan sisi garang [masuklin dan penaklukan] manusia ke atas alam yang terlalu berlebihan. Prinsip antroposentrisme, telah menjadi pedang yang tajam dan sekaligus membelah-belah alam dan ruang-ruang ekologi, ruang batin dan fisis-biosferik yang menjadi sangkar hidup segala makhluk. Seakan-akan, manusia hendak memperlihatkan kuasa macho-nya kepada makhluk-makhluk lain apakah biotik ataupun a-biotik, bahwa manusia adalah makhluk pilihan, sekaligus penghancur [destroyer]. Antara keperkasaan dan penghancur peradaban, berjarak setipis kulit bawang. Di sinilah celah peradaban [civilization] menjadi isu penting, demi menaklukkan wilayah hati yang ‘terliarkan’ [aboriginal], melalui gerakan ‘green’ [hijau] ke serata dunia.
Jazz Festival yang mengusung isu ‘green’ ini, seakan hendak menyorak kepada dunia, bahwa keadilan ekologis hendaklah menjadi tujuan bersama yang disemat dalam chip ingatan [memory] generasi bunga. Warisan besar yang hendak diturunkan kepada dunia, adalah sebuah warisan yang menyejukkan, sebuah rumah bersama yang berpelantar akal budi, sebuah zona aman dan selamat bagi susur-galur segenap makhluk hidup untuk menyelenggarakan kehidupan secara kompetitif dan berkeadilan. Bahwa segala makhluk adalah pemilik sah dari ruang bernama bentangan bumi. Dia bukan dominasi makhluk manusia. Dalam prinsip kehidupan sekte Zen Budhism, diyakini bahwa ruang ekologis ini dihuni oleh bermilyar ‘virus jahat’ dan ‘virus baik’. Ketika orang membuka lahan, membelah samudera, mencungkil bumi, secara tak sadar telah menghapus ‘rumah kehangatan’ virus jahat, maka ruang ekologis itu akan kehilangan keseimbangan. Yang tinggal hanya virus baik. Tersebab, tiada keseimbangan lagi, virus baik yang tersisa itu, akan menjadi pemangsa dan penghancur ekologis secara memusnahkan [dia berganti peran menjadi virus jahat pula]. Inilah prinsip hijau [green] yang ditawarkan dalam gerakan kebudayaan bernama ‘Malacca Strait Jazz’. Sebuah gempita suara dan bunyi dari tanah besar Sumatera. Bahwa menjaga keseimbangan hati, keadilan ekoligis, menjaga akal budi kebudayaan adalah kisah yang bersebati dengan semangat ‘merawat’ dan ‘menjaga’ keseimbangan hidup.
Hijau [green] adalah sebuah keseimbangan warna, ketika manusia diserbu oleh warna-warna ekstrem, maka hijau menyediakan atmosfer keteduhan dan kesasmitaan mengenai hidup, tentang alam tak terpermanai. Selat Melaka, hari ini telah dilekatkan dengan sebutan instalatif; black water [atau perairan gelap]. Di belakang kata ini, terhidang kisah-kisah yang menyayat dawai kemanusiaan seperti aksi perompakan, perdagangan orang dan obat terlarang, senjata dan kisah penyelundupan yang tiada sudah. Tugas berikutnya, bagaimana kawasan ini menjadi ‘hijau’ [damai, pasifis]. Yang mengisi dan berlalu lintas di laut permai ini adalah makhluk dengan suasana hati yang ‘hijau’. Menyayangi air, makhluk laut dan darat, menjaga tebing pantai dan alur pantai tetap bersemangat dalam toleransi-toleransi ekologik. Demikian pula isu pemusnahan hutan tropis yang amat marak dalam 20 tahun terakhir ini. Semua berlangsung marak, sadar tau tak sadar bergemuruh di sekitar selat Melaka.
Kita mengimpikan semua metropolitan di nusantara ini dihuni oleh manusia yang berjiwa hanif terhadap segenap kehidupan dan makhluk. Bahwa peradaban dan kebudayaan manusia menjadi ada dan kuat, karena kehadiran makhluk-makhluk lain. Bahwa kualitas peradaban manusia, sangat berkorespondensi dengan kualitas lingkungan tempat dimana manusia itu menyelenggarakan kehidupan. Jika kulaitas lingkungannya buruk, maka kualitas gizi, kualitas, makanan, kualitas kesehatan dan kualitas pemikiran manusianya akan buruk. Ujung dari semua itu adalah kualitas hidup dan kualitas peradaban manusia juga akan memburuk, bahkan menuju sebuah lubang kehancuran yang digali oleh manusia sendiri. Tersebab melayani ego antroposentrisme secara buta dan dangkal. Kita juga memiliki idaman ‘keakanan’ [masa depan], bahwa kampung, kawasan pedesaan menjadi pusat bening akal budi peraban terpelihara. Ibarat juluran sungai, sederas bagaimanapun arus air itu berlari menuju sebuah muara di lautan, dia tetap berpangkal pada satu sumber air yang bening di sebuah hulu yang sepi. Kenyataan ini menjadi sebuah keniscayaan, bagi manusia hari ini, demi menyelamatkan peradaban mereka. Tiada pilihan bahwa segala perbuatan kultural yang disajikan di atas permukaan bumi ini hendaklah menghidang wilayah bening dari semua hulu kebudayaan itu.
Untuk itu, even Malacca Strait Jazz [Green Festival] 2008 ini, akan menghidangkan wilayah akal budi manusia tropika. Sepanjang ‘taman’ dan ‘laman’ permainan jazz akan mempertunjukkan wilayah idaman kolektif tropis yang dikemas secara kreatif demi membangun consciousness [concientia/ kesadaran] bahwa kita adalah makhluk pemelihara dan perawat atas segala candra keindahan yang telah digariskan Allah menjadi bumi yang molek.

Ada tiga panggung [stage] yang mengusung narasi tropika:

1. Panggung aquatik [aquatic stage], yang menghadirkan atmosfer aquatic melalui sajian mata aquarama, dengan segala makhluk aquatic, baik yang tembus matahari [pellagic] maupun yang berada di kedalaman yang tak tembus sinar matahari. Benua karang, ganggang dengan sistem pengendalian ekologi bawah laut yang ikut menyumbangkan keseimbangan hidup di permukaan [daratan] bumi. Juga fenomena perairan umum [danau, situ, tasik dan sungai, teluk, suak dan tokong]
2. Panggung teresterial [terresterial stage], yang menghadirkan ‘prinsip selejang ruang’, sehamparan ruang yang disebut dengan ungkapan Melayu: SAUJANA. Saujana teresterial ini, ialah ruang hidup segala makhluk yang melakukan komunikasi dan simbiosis untuk kemaslahatan hidup manusia. Di sini ada kehidupan flora, fauna yang tergolong manja dan piaraan. Ada jenis avian, jenis mamalia, jenis nocturnal [malam] ada yang berlantungan dahan dan seterusnya. Sebagai backdrop bagi sebuah permainan sandiriwara manusia di permukaan bumi.
3. Panggung hutan tropis [rainforest stage], menghidangkan pesona hutan tropis yang menjadi paru-paru bumi. Costa Rica sebuah negeri di Karibia yang tak memiliki tentara dan Menteri Kehutanan, kenyataannya hutan mereka lebih terpelihara dan eksotik. Hutan hujan tropis ini adalah sebuah ‘buana surga’ tempat segala kehidupan menyelenggarakan seleksi alamiah, tempat penyelenggarakan segala bentuk eksprimentasi dan menjalin prinsip bizans secara biologis. Bahwa kerimbunan daun saling jalin berjalin, meskipun tidak berasal dari pohon yang satu. Demikian pula juluran akar di bawah tanah saling berjalin dan menganyam, meskipun mereka berangkat dari pohon yang tidak satu. Suguhan ensembel dan harmonika kehidupan, ialah replika sejati yang dipersembahkan oleh hutan hujan tropis secara jenawi [sejati]. Begitulah
catatan: aquatic stage dan terresterial stage, berada di ruang terbuka [outdoor], dengan mengambil tempat di saujana kompleks Bandarserai Pekanbaru. Sedangkan rainforest stage, adalah panggung yang dirancang di dalam ruangan [indoor] gedung Anjung Seni Idruss Tintin yang memilik kapasitas penonton 650 orang duduk [seat].

Yusmar Yusuf, Pengarah Malacca Strait Jazz Festival

 

 

 

Copyright 2007@Malacca Strait Jazz Festival